Just another WordPress.com site

10 Kiat Mentadabburi Al-Quran

  1. Hati: Artinya bahwa hati adalah alat untuk memahami AL Quran. Sedangkan hati berada ditangan Allah SWT yang sifatnya berbolak balik sesuai dengan kehendak Allah SWT. Terkadang dalam keadaan Taqwa namun suatu saat bisa saja berubah menjadi durhaka. Seorang pembaca Al Quran sangat membutuhkan pertolongan Allah SWT didalam merawat hati. Jika hati selalu terawat, maka pesan Al Quran akan mudah meresap kedalam jiwa. Menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk senantiasa memusatkan hati dan fikiran pada saat menerima sinyal-sinyal robbani. Bagaimana mungkin sinyal-sinyal robbani akan bisa diterima dengan baik jika penerima sinyal ( hati –red) dalam kondisi rusak. Rusak karena virus dunia yang menghancurkan sistem security didalam jiwa. Maka, mintalah kepada Allah SWT agar diberikan hati yang jernih, hati yang hidup, hati yang senantiasa terawat dan terjaga. Begitu banyak doa-doa yang bisa kita ungkapkan dihadapan Nya. Salah satu doa tersebut adalah “ Yaa Muqollibal Quluub Tsabbit Qolbii Alaa diiinik.”
  2. Tujuan atau Urgensi: Maksudnya adalah agar kita senantiasa menghadirkan dalam benak kita, “ Untuk apa saya membaca Al Quran “ Apakah untuk sekedar memenuhi target khataman ? Apakah karena dorongan pahala yang menjanjikan dengan 10 kebaikan pada tiap hurufnya ? Atau karena tugas harian yang dibebankan ? Beragam motivasi yang kita miliki. Maka beragam pula manfaat yang kita dapatkan. Manfaat Al Quran akan lebih terasa jika kita bertujuan agar mendapatkan Informasi berharga dari Al Quran yang bisa kita gunakan didalam menjalankan System Operasi Kehidupan Manusia.
  3. Shalat:Sangat dianjurkan sekali proses tadabbur Al Quran dilakukan didalam Solat. Merenungkan bacaan demi bacaan akan lebih mudah dilakukan pada saat solat dibandingkan diluar solat. Kita dituntut untuk menghadirkan hati kita, mengkhusyu’kan jiwa-jiwa kita, memusatkan konsentrasi kita. Kesempatan meraih suasana jiwa seperti ini lebih besar didapatkan ketika kita sedang melakukan solat.Alloh Ta’ala berfirman :

 وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَّكَ عَسَى أَن يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَاماً مَّحْمُوداً

Artinya :

“Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji”. (Al-Isra’:79)

Rosululloh SAW bersabda :

“لا حسد إلا في اثنتين رجل أتاه الله القرآن فهو يقوم به آناء الليل وآناء النهار ، ورجل آتاه الله مالا فهو ينفقه آناء الليل وآناء النهار”. متفق عليه

Artinya :

“Tidak ada hasad kecuali pada dua orang; seseorang yang Alloh anugerahkan Al-Qur’an kemudian dia berdiri membacanya sepanjang siang dan malam, dan seseorang yang Alloh anugerahkan harta kemudian dia menginfaqkannya sepanjang siang dan malam”. (Muttafaqun ‘alaih)

  1. Malam:Waktu yang paling tepat untuk mentadabburi Al Quran adalah waktu malam hari. Dan inilah Fitrahnya. Allah menciptakan malam salah satu tujuannya adalah sebagai waktu istirahat. Bukan hanya istirahat fisik, namun juga istirahatnya jiwa. Dengan suasana jiwa dalam keadaan tenang, bebas dari kesibukan duniawi, membuat sinyal-sinyal robbani akan menguat sehingga mudah ditangkap oleh penerima sinyal yaitu hati manusia.Al-Hasan bin Ali RA berkata : Sesungguhnya orang sebelum kalian melihat Al-Qur’an adalah surat-surat dari Rob mereka, maka mereka mentadabburinya pada waktu malam, dan mereka mencarinya pada waktu siang. (At-Tibyan Fi Adabi Hamalatil Qur’an, hal.29)Asy-Syaikh Asy-Syinqithi berkata : Al-Qur’an tidak akan kokoh di dalam dada, dan tidak akan mudah difahami kecuali berdiri di tengah malam. (Muqoddimah Adhwaa’ul Bayaan : 4)
  2. Minggu: Hendaklah setiap kita mempunyai target untuk mengkhatamkan Al Quran setiap Minggu. Bagi kebanyakan orang memang sangatlah berat. Berat atau tidak sifatnya sangatlah relatif. Karena banyak juga orang yang mampu mengkhatamkan kitab-kitab novel yang tebalnya lebih dari Al Quran hanya dalam waktu satu hari. Mengapa bisa? Karena mereka menikmati bacaannya. Jika sudah menikmati, yang terasa berat menjadi sangatlah ringan untuk dilakukan. Tentu saja ini dilakukan dengan proses. Setahap demi setahap. Target khataman 3 bulan sekali. Meningkat menjadi 2 bulan sekali. Meningkat lagi ke sebulan sekali. Setelah terbiasa, khataman seminggu sekali akan terasa mudah untuk dilakukan.
  3. Hafalan:Hendaklah setiap kita membaca Al Quran dengan hafalan. Mengapa? Membaca dengan menghafal akan memudahkan hati dalam meresapi bacaan. Apalagi bacaan dilakukan didalam solat. Mana mungkin bisa konsentrasi jika solat dalam keadaan membolak balik mushaf. Disibukkan dengan huruf dan lembaran kertas.Tujuan utama menghafal Al-Qur’an adalah berdiri sholat dengan membacanya sepanjang siang dan malam, dan tujuan berdiri ini adalah menjaga apa yang terkandung di dalamnya berupa ilmu tentang Alloh dan hari akhir, ilmu itu yang akan mewujudkan kehidupan yang baik bagi manusia, mewujudkan kekokohan dalam krisis, kekuatan untuk ummat dalam menghadapi musuh-musuhnya, inilah tujuan utama untuk menghafal Al-Qur’an yang semestinya difokuskan oleh orang-orang yang bergerak dalam bidang pendidikan.Sesungguhnya menghafal lafadz adalah sarana dan bukan tujuan, yaitu sarana untuk menghafal makna, dan mengambil manfaat untuk kehidupan, adapun hanya menghafal lafadz-lafadz maka itu adalah sebuah kekurangan dalam hak Al-Qur’an Al-‘Adzim, itu adalah penyelewengan dari jalan yang lurus dalam menjaganya dan mengambl manfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat.
  4. Mengulang ulang:Hendaklah setiap kita mengulang ayat-ayat sampai benar-benar meresap kedalam jiwa. Semaking sering sebuah lafazh diulang maka semakin mudah memahami sebuah makna.Tanpa disadari, pengulangan sebuah Lafaz dapat melahirkan pengagungan dan ketakjuban dari apa yang dibaca. Sebagai contoh, jika seseorang merasa takjub terhadap sebuah kisah atau kalimat, maka ia akan mengulang-ngulangnya sendiri, ataupun untuk orang lain.Abu Dzar RA berkata, Nabi SAW  berdiri dengan satu ayat dan beliau mengulang-ulangnya sampai shubuh :

 إِن تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِن تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنتَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ 

Artinya :

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Al-Maidah:118)

Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Al-Hakim, dan beliau menshohihkannya serta disepakati oleh Adz-Dzahabi, dan dihasankan oleh Al-Albani.

Al-Hasan Al-Bashri pada suatu malam mengulang-ngulang ayat berikut sampai shubuh :

 وَإِن تَعُدُّواْ نِعْمَةَ اللّهِ لاَ تُحْصُوهَا إِنَّ اللّهَ لَغَفُورٌ رَّحِيمٌ 

Artinya :

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Alloh, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (An-Nahl:18)

Beliau ditanya tentang hal itu dan mengatakan : Sesungguhnya di dalamnya ada tempat untuk mengambil pelajaran, kami tidaklah mengangkat dan tidak pula menolaknya kecuali berada dalam kenikmatan, dan kami tidaklah mengetahuinya kecuali dari kenikmatan-kenikmatan Alloh itu lebih banyak. (Mukhtashor Qiyamul Lail, Karya Al-Marwazi, hal.151)

  1. Mengaitkan: Hendaklah setiap kita selalu mengaitkan setiap bacaan dengan realia kehidupan kita. Caranya dengan mengimplementasikan Al Quran didalam waktu hidupnya malam ataupun siang. Dengan cara seperti ini Al Quran akan selalu hidup didalam hatinya. Setiap realita hidupnya selalu sejalan dengan yang diarahkan oleh Al Quran. Setiap ada persoalan selalu ada jawabannya dari Al Quran.
  2. Membaca dengan perlahan:Janganlah tergesa-gesa didalam membaca ayat ayat Nya. Hanya karena menginginkan target khatamannya tercapai.Alloh Ta’ala berfirman :

 وَرَتِّلِ الْقُرْآنَ تَرْتِيلاً 

Artinya :

“Atau lebih dari seperdua itu. dan bacalah Al Quran itu dengan tartil (perlahan-lahan)”. (Al-Muzammil:4)

Ibnu Katsir berkata : Bacalah Al Quran dengan perlahan karena hal itu akan membantu untuk memahami Al Quran dan Mentadabburinya. Dan dengan cara seperti inilah Rosulullah membaca Al Quran. Aisyah berkata : “Beliau membaca Al Quran dengan tartil seolah-olah menjadisuratterpanjang.”

  1. Mengeraskan suara:Karena sesungguhnya mengeraskan suara lebih membantu untuk konsentrasi dan perhatian.Dari Abu Hurairah RA , Nabi SAW bersabda :

عن أبي هريرة رضي الله عنه : قال النبي صلى الله عليه وسلم : “ليس منا من لم يتغن بالقرآن يجهر به”. رواه البخاري

Artinya: “Bukanlah bagian dari golongan kami orang yang tidak melagukan Al-Qur’an dan mengeraskannya”. (HR. Al-Bukhori)

Sumber: Dr. Khalid Abdul Karim al-Halim (Kitab Mafatih Tadabburil Qur’an)

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: